Skip to content

MSG = Silent Killer, Benarkah itu Semua?

Setiap hari kita beraktivitas dengan menggunakan energi yang didapatkan dari makanan. Bahan-bahan makanan pun beragam jenisnya, menawarkan banyak sekali vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh.

Tapi sadarkah Anda jika kini makanan yang masuk ke dalam mulut bisa menjadi bom waktu?

Beragam saran kesehatan yang diberikan bersama dengan bukti sebaiknya harus selalu diperbarui. Banyak penelitian baru yang dilakukan untuk mendalami berbagai hal tentang makanan yang kita konsumsi dan efeknya pada tubuh.

Apalagi dengan kemunculan media yang menggandeng tokoh kesehatan dengan informasi pas-pasan, memberikan informasi kepada masyarakat, melebih-lebihkan hasil penelitian.

MSG = Silent Killer, Benarkah?
MSG = Silent Killer, Benarkah? | Source: http://health.family.my

Hal ini berakibat ketakutan berlebih yang sebenarnya tak perlu dan, malah membuat Anda mengambil pilihan-pilihan yang justru tidak sehat.

Seperti yang terjadi pada monosodium glutamat alias MSG. Masih banyak yang mempercayai bumbu penyedap ini sebagai racun berbahaya.

Meskipun membuat makanan menjadi lebih nikmat dan kaya rasa, klaim yang menganggap penggunaan MSG dapat menyebabkan kebodohan, obesitas, bahkan kanker ini membuat banyak orang memilih untuk menghindarinya.

Tapi tenang, jangan panik dulu. Mari kita bersama mencari tahu lebih jauh guna menghilangkan kebingungan dengan mempertimbangkan bukti-bukti yang sudah ada.

Setelah membaca artikel ini mungkin Anda bisa sedikit lebih lega dan dapat menikmati makanan tanpa ada ketakutan yang tak perlu.

Mengenal MSG

Apa itu MSG? Sesuai namanya, MSG merupakan garam sodium yang diperoleh dari asam glutamat. Glutamat sendiri adalah asam amino yang berperan sebagai pembentuk protein dalam tubuh.

Saat ini glutamat yang kita kenal berasal dari bahan-bahan kimia, tetapi sebenarnya ada bahan makanan yang memang mengandung glutamat.

Asam amino ini dapat muncul secara alamiah pada tomat, keju parmesan, jamur kering, saus kecap, beberapa buah dan sayur, bahkan ASI.

Mengenal MSG
Mengenal MSG | Source: https://vaccineimpact.com

Menurut Institute of Food Technologists, bahan-bahan berikut juga mengandung banyak glutamat, diantaranya:

  • Daging sapi mengandung 2846 mg glutamat terikat dan 33 mg glutamat bebas;
  • Ikan salmon mengandung 2216 mg glutamat terikat dan 20 mg glutamat bebas
  • Keju parmesan mengandung 9847 mg glutamat terikat dan 1200 mg glutamat bebas
  • Jagung mengandung 1765 mg glutamat terikat dan 130 mg glutamat bebas
  • Wortel mengandung 218 mg glutamat terikat dan 33 mg glutamat bebas
  • Tomat mengandung 238 mg glutamat terikat dan 140 mg glutamat bebas

Bahan makanan tersebut secara otomatis akan menyedapkan rasa dari bahan-bahan lain yang dimasak bersamaan. Fakta inilah yang menjadi dasar MSG dibuat.

Dari segi bahan, MSG dibuat dari tetes tebu atau tepung tapioka melalui proses fermentasi mikroba. Metode yang sama digunakan untuk mengolah tempe, keju, dan tape.

Baca juga:  Cara Merawat Gigi yang Benar

Jadi, baik dari bahan maupun metode yang digunakan tidak menunjukkan bahwa MSG berbahaya.

MSG juga direkomendasikan untuk digunakan oleh sebuah rumah sakit karena kandungan natrium yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang ada di dalam garam dapur biasa.

Dengan demikian MSG sebagai penyedap rasa yang cocok untuk pasien pengidap hipertensi maupun pasien lain yang harus menghindari garam dalam dietnya.

Asal-usul MSG

MSG berasal dari Jepang. Pertama kali ditemukan oleh seorang profesor kimia dari University of Tokyo, Kikunae Ikeda, di tahun 1908.

Ia menyatakan bahwa MSG adalah garam dengan kondisi paling stabil yang terbentuk dari glutamic acid dan juga paling baik untuk memunculkan rasa ‘umami’ yang diinginkan.

Asal Usul MSG
Asal Usul MSG | Source: http://sharemykitchen.com

‘Umami’ yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘sedap’, dikaitkan dengan rasa daging yang diyakini ada rasa baru selain empat rasa dasar: manis, asin, asam dan pahit.

Mulanya Ikeda mendapatkan glutamat dari ganggang laut kombu kering (kelp) yang pada saat itu banyak digunakan untuk membuat kaldu dashi dalam makanan Jepang.

Kemudian ia menambahkan sodium (salah satu dari dua unsur garam dapur) yang memungkinkan glutamat untuk stabil dalam bentuk bubuk.

Bubuk inilah yang ditambahkan ke dalam makanan dan saat ini kita kenal sebagai monosodium glutamat.

Bahaya MSG

Informasi tentang bahaya mengonsumsi MSG tidak muncul baru-baru ini. Diawali dari hasil pengujian terhadap tikus yang diberi MSG dan kemudian menjadi buta.

Setelah ditelusuri, ternyata dosis MSG yang diberikan ke tikus-tikus percobaan ini mencapai 20 gram untuk setiap 100 gram makanan tikus.

Penelitian lainnya di tahun 1969 menyatakan bahwa MSG dapat merusak jaringan otak. Hal ini ternyata disebabkan oleh pemberian MSG pada tikus percobaan yang sangat banyak, mencapai 4 gram/kg berat badan.

Bisa Anda bayangkan sendiri. Batas aman konsumsi MSG pada manusia adalah sebanyak 6 gram, dengan asumsi berat badan 50 kilogram, maka didapatkan batas aman MSG per kg berat badan adalah sebanyak 0,12 gram/kg.

Sehingga wajar bila terjadi kerusakan jaringan otak pada tikus mengingat dosis yang diberikan sangat tinggi.

Sampai saat ini belum ada bukti untuk menyatakan hubungan antara MSG dengan kerusakan retina maupun otak.

Namun seperti orang kebanyakan, informasi yang belum jelas buktinya sudah tersebar luas dan menimbulkan keresahan.

Bahaya MSG
Bahaya MSG | Source: https://propelsteps.wordpress.com

Pada tahun 1995, Food and Drug Administration (FDA) mencoba mencari jawaban atas keresahan masyarakat terkait MSG.

Federation of American Societies for Experimental Biology diminta oleh FDA untuk memeriksa semua bukti yang ada agar dapat memutuskan apakah MSG adalah musuh makanan seperti yang dipikirkan selama ini.

Baca juga:  Cara Menurunkan Berat Badan

Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa ada cukup bukti ilmiah yang dapat menunjukkan pengaruh MSG.

Sekelompok orang sehat yang bila dilihat secara umum memiliki kemungkinan untuk mendapatkan pengaruh buruk MSG dalam dosis tinggi dan biasanya terjadi satu jam setelahnya.

Penelitian ini dilakukan dengan memberikan tiga gram atau lebih MSG yang dimasukkan dalam air, tanpa makanan.

Padahal kenyataannya, setiap hari sebagian besar orang akan mendapatkan 0,55 gram MSG dari makanan mereka. Oleh karena itu, penelitian ini dianggap tidak bisa membuktikan adanya pengaruh buruk atau efek samping MSG.

Selain itu, ada beberapa orang, setelah mengonsumsi MSG, mengalami mual, pusing, bahkan mati rasa di bagian belakang leher yang kemudian menyebar ke lengan dan punggung.

Hal ini diperparah dengan rasa lemas dan percepatan detak jantung.

Kondisi seperti ini dinamakan “Chinese Restaurant Syndrome” (CRS). Pada tahun 1968, Dr Ho Man Kwok, orang pertama yang mengalami kondisi ini, menyatakan kemungkinan MSG sebagai penyebabnya.

Ia selalu mengalami hal yang sama setiap kali makan di restoran Cina di Amerika Serikat. Tetapi hingga sekarang belum ada yang dapat membuktikan bahwa CRS merupakan suatu kondisi medis yang nyata atau hanya mitos belaka.

Penelitian lain dilakukan pada tahun 1970 oleh Bazzano, D’Elia dan Olson.  Sebanyak 11 orang dewasa masing-masing diberi asupan glutamat hingga mencapai 100 gram per hari selama 42 hari.

Status kesehatan masing-masing orang diawasi setiap harinya untuk melihat efek glutamat pada sistem syaraf.

Hingga akhir penelitian, yaitu hari ke-42, tidak ada bukti yang menyatakan MSG dapat mengubah struktur maupun fungsi dari sistem syaraf seluruh relawan tersebut.

Batas Konsumsi MSG

Batas Konsumsi MSG
Batas Konsumsi MSG | Source: http://food.thecookbk.com

World Health Organization (WHO) telah memberikan batas maksimal atau jumlah takaran penggunaan MSG yang boleh dikonsumsi manusia, yaitu 6 gram per hari.

Kementerian Kesehatan RI juga merekomendasikan batas aman konsumsi MSG sebanyak 5 gram. Batas ini bisa dibilang sangat aman karena rata-rata orang Indonesia, dan di seluruh dunia, hanya mengonsumsi 0,65 gram MSG setiap harinya.

Ada juga yang melakukan penelitian kecil-kecilan dengan sampel semangkuk bakso kaki lima yang ada di Bandung.

Zulfikar Hermawan dari Zenius menemukan bahwa terdapat kandungan MSG dengan jumlah rata-rata sekitar 0,5 gram di tiap porsi bakso.

Angka ini jauh dibawah batas maksimal baik yang ditentukan WHO maupun Kemenkes RI, yaitu sebesar 6 dan 5 gram.

Apa yang Terjadi Saat Tubuh Mengonsumsi MSG?

Glutamat yang diperoleh dari MSG maupun penyedap rasa alami jika sudah masuk ke dalam tubuh, tidak dapat dibedakan. Keduanya memiliki efek dan proses mencerna yang sama di dalam tubuh.

Baca juga:  Benarkah Minuman Bersoda Berbahaya?

United States Food and Drug Administration (FDA) mengatakan, MSG yang kita konsumsi masuk ke sistem pencernaan dan akan dipecah menjadi sodium/natrium (Na) dan Glutamat.

Apa yang Terjadi Saat Tubuh Mengonsumsi MSG?
Apa yang Terjadi Saat Tubuh Mengonsumsi MSG? | Source: http://www.thevaccinereaction.org

Selanjutnya, kedua bahan tersebut diproses lebih lanjut sesuai fungsi alaminya.

Sebanyak 95% glutamat yang masuk ke tubuh akan dimetabolisme lebih lanjut oleh sel-sel usus halus untuk dijadikan energi yang menjalankan pencernaan di dalam usus halus itu sendiri.

Sedangkan sisa 5%-nya digunakan untuk membentuk protein yang dapat membantu pengiriman sinyal-sinyal dalam otak.

Glutamat memiliki peran yang lebih pada otak dengan menjadi neurotransmiter.

Perlu Anda tahu bahwa neurotransmiter memiliki tugas untuk menyampaikan sinyal-sinyal yang didapat dari sel saraf menuju ke sel target, seperti sel otot atau sel endokrin (kelenjar hormon).

Anda tidak perlu khawatir akan kelebihan glutamat dalam tubuh. Secara otomatis, bila ada kelebihan tersebut akan dikeluarkan dari tubuh melalui urin. Sistem dalam tubuh dengan cepat dapat menggantikan glutamat yang keluar.

Makanan Lain yang Dianggap Berbahaya

Selain MSG ternyata ada beberapa makanan yang dianggap berbahaya. Beberapa orang, mungkin juga Anda, pernah mendengar dan mempercayai mitos-mitos seputar makanan berikut.

Makanan Lain yang Dianggap Berbahaya
Makanan Lain yang Dianggap Berbahaya | Source: http://abeautifulmess.com
  • Ketergantungan pada kopi yang banyak mengandung kafein dapat berakibat serangan jantung

Tidak banyak bukti yang menyatakan bahwa meminum kopi dapat membuat Anda terkena serangan jantung. Hasil dari pengamatan yang ditulis dalam New England Journal of Medicine pada tahun 2012 justru menyatakan sebaliknya.

Pengamatan dilakukan dengan memeriksa laporan kesehatan 400.000 orang Amerika dalam 13 tahun.

Orang-orang yang minum kopi sebanyak tiga sampai enam cangkir sehari memiliki peluang 10% lebih kecil untuk meninggal dalam periode 13 tahun itu.

Mereka juga memiliki kemungkinan lebih sedikit terkena penyakit jantung, diabetes, dan stroke.

Sebuah kajian yang dilakukan pada 2014 juga memberi gambaran serupa: orang-orang yang minum empat cangkir kopi sehari memiliki kemungkinan 16% lebih kecil untuk mati karena penyakit.

Yang perlu diingat, bahwa kedua kajian tersebut hanya berdasarkan pengamatan. Tapi berdasar fakta yang didapat, setidaknya bisa membuat Anda menikmati kopi di pagi hari tanpa rasa bersalah.

  • Mengonsumsi Gandum dapat Menyebabkan Alzheimer’s

Satu klaim yang populer menyebutkan bahwa makanan yang terbuat dari gandum dapat memicu radang di seluruh tubuh dan juga memicu “kabut otak” sehingga meningkatkan risiko kondisi serius seperti Alzheimer’s.

Padahal dengan mengonsumsi karbohidrat dan gula, kerusakan saraf juga dapat terjadi seiring berjalannya waktu.

Tetapi gandum masih lebih baik untuk dikonsumsi daripada sumber energi yang lain, seperti kentang, karena gandum akan melepaskan gula secara perlahan.

MSG = Silent Killer, Benarkah itu Semua?
5 (100%) 1 vote
Published inKesehatan

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.