Skip to content

Kupas Tuntas Tentang Telinga: Cotton Bud Berbahaya!

Tentu kita tahu bahwa telinga merupakan bagian tubuh yang berfungsi sebagai alat pendengaran. Mulai dari daun telinga hingga rumah siput (koklea), memiliki fungsi masing-masing yang membantu kita untuk dapat mendengar dengan baik.

Sebagaimana bagian tubuh yang lain, secara alami telinga akan menghasilkan kotoran yang bila berlebihan akan mengganggu kesehatan.

Cotton bud sudah menjadi alat wajib yang selalu digunakan untuk membersihkan telinga. Saya sendiri pun selalu menggunakannya ketika telinga terasa gatal.

Tapi beberapa waktu yang lalu, saya menemukan artikel yang mengatakan bahwa penggunaan cotton bud justru membahayakan kesehatan telinga. Batang kecil dengan ujung kapas tersebut akan mendorong kotoran yang ada di luar telinga semakin masuk ke dalam.

Serumen, Kotoran yang Bermanfaat

Serumen adalah zat yang diproduksi secara alami di bagian terluar kanal telinga. Kotoran dapat terbentuk dari perpaduan satu sampai dua ribu kelenjar minyak dan modifikasi kelenjar keringat ditambah sedikit rambut, kulit mati, dan kotoran tubuh lainnya.

Lihat gambar telinga dibawah ini.

Serumen, Kotoran yang Bermanfaat
Serumen, Kotoran yang Bermanfaat – Source: https://doktorun.net

Banyak artikel yang menyebutkan bahwa serumen berfungsi sebagai pelumas dan juga untuk mencegah debu, partikel, dan serangga kecil, seperti semut, masuk lebih jauh ke dalam telinga atau bahkan ke rongga-rongga dalam kepala.

Namun ada juga yang yakin bahwa kotoran telinga bisa berfungsi sebagai antibiotik.

Pada 1980 pernah dilakukan penelitian untuk membuktikan manfaat serumen. Para peneliti dari National Institutes of Health (NIH), Tuu-Jyi Chai dan Toby C Chai mengambil serumen dari 12 orang dengan menggunakan alat yang mereka sebut sebagai ‘kait steril kotoran telinga’.

Serumen tersebut kemudian dicampur dengan larutan alkohol dan ditambahkan bakteri.

Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa kotoran telinga mampu membunuh 99% jenis bakteri, termasuk Haemophilus influenza (yang menyebabkan berbagai infeksi baik pada anak-anak maupun orang dewasa) dan jenis E. coli khusus yang disebut K-12.

Pada jenis strain virus E. coli yang lain, Streptococcus serta Staphylococcus, ternyata lebih tahan terhadap kotoran telinga. Tingkat kematian bakteri tersebut berada di kisaran 30% sampai 80%.

Meski begitu, sampel kotoran telinga yang diambil punya efek yang jelas, yaitu membunuh 10 jenis bakteri yang diujikan.

Ada fakta menarik tentang serumen ini. Mungkin sebagian besar dari Anda tidak sadar bahwa sebenarnya ada dua jenis yang ditentukan oleh faktor genetik. Gen pembawa sifat ini bernama ABCC11.

Jika Anda mendapat huruf A maka kotoran telinga Anda adalah jenis kering. Sedangkan jika Anda mendapat huruf G, maka tipe kotoran telinga Anda adalah basah. Dan tipe ini adalah yang dominan.

Baca juga:  Kawat Gigi dan Cara Merawatnya

Cotton Bud Bukan Alat untuk Membersihkan Telinga

Leo Gerstenzang adalah orang pertama yang membuat cotton bud dan menamainya Q-tips (Quality Tips). Pria berkebangsaan Amerika ini terinspirasi ketika melihat istrinya menggunakan gumpalan kapas sebagai tusuk gigi untuk membersihkan area yang susah dijangkau.

Jadi sudah jelas, dari awal pembuatannya, cotton bud bukan alat untuk pembersih telinga.

Secara alamiah, serumen bersama dengan sel-sel kulit yang mati akan dikeluarkan dari dalam liang telinga ke lubang telinga secara perlahan dan konstan.

Gerakan rahang pada saat mengunyah, menelan dan berbicara membantu proses pembersihan alamiah ini. Setelah mencapai lubang telinga serumen dapat jatuh keluar dari telinga kita.

Cotton Bud Bukan Alat untuk Membersihkan Telinga
Cotton Bud Bukan Alat untuk Membersihkan Telinga | Source: https://www.youtube.com

Membersihkan telinga dengan menggunakan cotton bud dapat menyebabkan lapisan protektif berkurang sehingga dapat menyebabkan edema dari epitel skuamosa.

Kondisi seperti ini akan menimbulkan trauma lokal yang membuat bakteri masuk dengan mudah melalui kulit, menyebabkan inflasi dan menimbulkan eksudat.

Cotton bud dapat memasukkan bakteri dan jamur ke dalam liang telinga dan jika epitel mengalami trauma atau luka, maka akan mudah terjadi infeksi.

Selain itu, cotton bud juga dapat mendorong serumen masuk ke dalam liang telinga. Dimana ketika sering dilakukan, serumen akan semakin terakumulasi dan mengakibatkan penimbunan serumen di liang telinga.

Terlepas dari risikonya, banyak dari kita yang tetap saja memasukkan cotton bud ke dalam telinga, meski dokter telah melarang tindakan tersebut.

Menggosok-gosok telinga menggunakan cotton bud dapat membolongi gendang telinga. Bisa juga terjadi, kapas yang ada di ujung pembersih lepas dan terjebak dalam saluran telinga.

Terdengar mengerikan? Tapi hal ini bukan himbauan yang baru-baru ini digencarkan. Kebanyakan dari kita masih menolak mengubah kebiasaan membersihkan telinga dengan cotton bud.

Selain penggunaan cotton bud, ada metode lain yang juga harus dihindari, yaitu ear candle. Dalam penggunaannya, sebuah lilin bolong yang terbuat dari lilin lebah atau parafin diletakkan di dekat telinga dan kemudian dibakar.

Metode ini menggunakan prinsip bahwa panas di dalam lilin tersebut akan menarik kotoran telinga keluar dari saluran telinga, sehingga menjadi mudah dibersihkan.

Terlebih lagi tidak ada bukti yang mendukung metode ini. Justru lebih banyak bukti yang membenarkan bahwa membakar lilin panas di dekat telinga akan sakit dan lebih baik dihindari.

Dapatkah anda bayangkan meletakkan lilin yang terbakar di dekat telinga? Panasnya bahkan bisa menyakiti Anda. Untuk itu saya sarankan untuk tidak mencobanya. Sekalipun.

Penyakit Telinga: Radang Liang Telinga dan Gendang Telinga Berlubang

Pembersihan telinga secara asal-asalan dapat berdampak sangat buruk pada kesehatan. Seperti yang disebutkan di atas, cotton bud dapat menimbulkan trauma mekanik berupa trauma lokal dan ringan pada epitel liang telinga luar.

Baca juga:  Manfaat Air Putih dan Bahayanya Saat Diminum Sambil Berdiri

Hal ini yang kemudian menjadi pemicu terjadinya otitis eksterna.

Penyakit Telinga: Radang Liang Telinga dan Gendang Telinga Berlubang
Penyakit Telinga: Radang Liang Telinga dan Gendang Telinga Berlubang | Source: http://www.netdoctor.co.uk

Radang liang telinga akut, atau dalam istilah kedokteran disebut otitis eksterna, terjadi akibat adanya infeksi bakteri, jamur dan virus.

Infeksi ini juga bisa terjadi di seluruh saluran, yang kemudian disebut otitis eksterna generalisata, atau hanya pada daerah tertentu dalam bentuk bisul atau jerawat.

Adanya perubahan pH di liang telinga menjadi salah satu faktor penyebab radang liang telinga. Pada keadaan normal, pH di liang telinga adalah asam atau netral.

Bila pH menjadi basa, maka perlindungan terhadap infeksi akan menurun. Selain itu, udara yang hangat dan lembab juga dapat membuat kuman dan jamur mudah berkembang.

Selain radang, seseorang juga dapat mengalami masalah akibat dari gangguan kotoran telinga. Efeknya bisa berakibat pada kehilangan pendengaran sehingga menarik diri dari kehidupan sosial dan bahkan paranoida ringan.

Beberapa pasien dengan kotoran telinga yang terdampak mengalami perforasi (pelubangan) gendang telinga.

Namun karena serumen tak bisa membuat gendang telinga berlubang, maka hal ini hanya bisa disebabkan oleh diri sendiri, mungkin karena berusaha mengambil kotoran telinga sendiri.

Cara Membersihkan Telinga yang Benar

Sebenarnya, tanpa melakukan pembersihan secara eksternal, dengan sendirinya sel-sel kulit yang mati dan juga serumen, akan dibersihkan dan dikeluarkan dari gendang telinga melalui liang telinga.

Dengan menggunakan cotton bud justru dapat mengganggu mekanisme pembersihan tersebut. Kotoran telinga bukannya bersih malah akan menumpuk di sekitar gendang telinga.

Hal ini didukung dengan anatomi telinga yang memiliki lekukan pada liang telinga. Keadaan ini dapat menimbulkan timbunan air yang masuk ke dalam liang telinga ketika mandi atau berenang.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kulit yang basah, lembab, hangat, dan gelap pada liang telinga merupakan tempat yang baik bagi pertumbuhan bakteri dan jamur.

Lalu bagaimana cara yang tepat untuk membersihkan telinga?

Cara Membersihkan Telinga yang Benar
Cara Membersihkan Telinga yang Benar | Source: http://www.stylecraze.com

Jika Anda memiliki kotoran telinga berlebih yang sulit dikeluarkan, maka gunakanlah baby oil sebagai obat tetes telinga. Anda hanya perlu memasukkan beberapa tetes baby oil ke dalam telinga.

Hal ini dapat membantu melunakkan dan melonggarkan kotoran yang mungkin mengeras.

Caranya:

  • Pertama, bersihkan telinga bagian luar menggunakan kain lap lembut yang sudah dibasahi dengan air hangat, lalu keringkan dengan handuk.
  • Kemudian miringkan kepala Anda dan teteskan cairan tersebut pada lubang telinga sebanyak empat atau lima tetes.
  • Perlahan-lahan, tekan tulang rawan muda di bagian luar telinga Anda dan pijat pelan membentuk lingkaran. Gerakan ini akan membantu cairan tersebut mengenai semua bagian dalam telinga Anda.
  • Balikkan kepala Anda pada posisi netral dan biarkan cairan berada di dalam telinga selama 10 menit.
  • Lalu teteskan air hangat perlahan-lahan ke dalam telinga. Kemudan miringkan kepala ke sisi satunya, hal ini akan mengeluarkan kotoran telinga.
  • Ulangi untuk telinga satunya lagi.
Baca juga:  Benarkah Minuman Bersoda Berbahaya?

Jika kotoran terasa sangat menganggu pendengaran, segera periksakan ke dokter THT untuk mendapat perawatan.

Bila telinga Anda terasa gatal tak tertahankan, gunakan kapas atau kain lap lembut yang telah direndam air panas dan gunakan untuk membersihkan bagian telinga yang gatal.

Ingat, lakukan ini hanya pada bagian luar telinga, jangan sampai terlalu dalam.

Adapun cara lain untuk membersihkan telinga adalah dengan memasukan air ke telinga ketika mandi, lalu miringkan kepala untuk mengeluarkan airnya.

Pastikan untuk menggunakan airnya hangat, karena jika terlalu panas atau dingin justru dapat menyebabkan vertigo. Tapi tak ada kesepakatan medis apakah pembasahan adalah hal yang aman.

Para peneliti dari University of Minnesota Medical School, Anjali Vaidya dan Diane J Madlon-Kay pada 2012 menyimpulkan bahwa pelembut kotoran telinga, pembasahan, atau metode pembersihan lainnya mungkin dapat dilakukan.

Tetapi tidak ada satu pun metode pembersihan yang telah terbukti paling baik, paling aman, atau paling efektif dibanding yang lain. Meski begitu, prosedur ini akan lebih baik jika ditangani oleh ahlinya.

Karena pada dasarnya telinga kita sudah memiliki sistem pembersihan sendiri, maka tidak perlu sering-sering melakukan pembersihan telinga.

Semakin sering kita mengorek-orek telinga, kelenjar minyak yang mencegah kotoran dari luar untuk masuk akan mengeluarkan minyak/cairan berlebih. Tentu hal ini akan membuat kondisi telinga lebih tidak sehat.

Waktu yang Tepat untuk Membersihkan Telinga

Setelah seluruh penjelasan di atas Anda tentu berfikir untuk tidak melakukan pembersihan dan membuang jauh-jauh cotton bud Anda.

Tunggu dulu. Anda masih boleh membersihkan kotoran telinga, tetapi hanya di daun telinga atau telinga bagian luar saja. Jangan memasukkan benda apapun ke dalam liang telinga Anda dengan alasan untuk membersihkan kotoran telinga.

Waktu yang Tepat untuk Membersihkan Telinga
Waktu yang Tepat untuk Membersihkan Telinga | Source: http://innoflaps.com

Anda perlu membersihkan kotoran telinga bila merasakan gejala-gejala sebagai berikut:

  1. Sensasi rasa penuh, tersumbat atau nyeri di dalam telinga
  2. Tinnitus (suara telinga berdenging atau gemrebeg dalam telinga)
  3. Pendengaran kurang jelas
  4. Keluar cairan dari telinga disertai rasa gatal atau nyeri

Mengingat anatomi telinga dan bahaya melakukan pembersihan sendiri, jika terdapat salah satu dari gejala di atas dan sudah sangat mengganggu, Anda perlu segera berkonsultasi dengan dokter telinga dan melakukan pembersihan serumen dalam telinga Anda.

Kupas Tuntas Tentang Telinga: Cotton Bud Berbahaya!
5 (100%) 2 votes
Published inKesehatan

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.